Membaca Sudut Pandang Setan

Alhamdulillah...hari ini jadwal lumayan padat, sehingga tidak membiarkan diriku terjebak dalam kegiatan yang kurang bermanfaat. Mengirim barang dagangan ke kota Batam, mengurus kemeja klien yang ada kesalahan di bagian nickname, dan terakhir ke perpustakaan jurusan untuk mencari referensi skripsi. Setelah semua yang ada di daftar agenda sudah dikerjakan, saatnya pulang ke rumah.

Singkat cerita, setibanya di rumah kulihat ada motor asing yang bertengger di teras rumah.

"Ah, mungkin motor temannya adikku", prediksiku dalam hati.

Memang semenjak kepergian adek bungsuku pertengahan tahun 2012 lalu untuk 'mondok' di pesantren ditambah awal tahun 2013 ini kakak sulungku yang mulai bekerja di Jakarta, rumah menjadi sangat sepi. Praktis hanya ada Bapak, Ibu, aku, dan adik pertamaku Aisha di rumah. Sehingga prediksi yang mengatakan motor itu milik teman adikku hampir tidak mungkin meleset.

"Assalamu'alaikum...", ucapku saat memasuki rumah.

"Waalaikumsalam...", balas adikku dan kedua temannya.

"Mas, tadi ada kiriman barang dari Jakarta", kata adikku.

"Hah? Kiriman barang apa?", jawabku singkat.

"Ga tahu, itu barangnya ada di atas meja sterika", ucapnya tanpa memalingkan muka.

"Ohh...iya...", ucapku sambil segera menuju TKP yang dimaksud.

Begitu kulihat ada sebuah bungkusan hitam sebesar buku diktat kalkulusku yang isinya seratusan halaman itu, aku jadi langsung mengerti apa isi bungkusan itu.

"Lho cuma ini, Is?", tanyaku untuk memastikan lagi.

"Iya, lha aku kan ga tahu, Mas", jawab adikku polos.

"Oh, ya udah", tambahku.

Seharusnya tak perlu juga sih aku tanyakan pertanyaan tadi. Toh, memang dua barang yang aku pesan dari Jakarta dua hari yang lalu memang dikirimnya berlainan hari meskipun aku memesannya dari vendor yang sama.

Setelah mengecek dan memastikan bahwa pengirim barang itu tidak salah, segera kulepaskan sepatu dan kaos kakiku untuk segera menuju ke kamarku yang terletak di lantai dua.

Sesampainya di kamar, aku cek barang kiriman itu dan setelah memastikan bahwa kondisinya bagus langsung aku nyalakan komputerku untuk sekedar membunuh waktu menjelang adzan Maghrib berkumandang.

Tiit! Ngguungg...
Raungan prosesor dan kipas komputer menandakan bahwa komputer sudah mulai menjalankan tugasnya. Sekelebat terlintas pikiran di otakku, "Sambil menunggu adzan Maghrib kenapa ga tilawah aja?". Belum sempat diri ini beranjak untuk mengambil mushaf, gerakanku sudah terhenti setelah terasa betapa keringnya kerongkonganku ini. Memang sejak kemarin malam saluran pencernaanku belum terisi lagi oleh makanan dan minuman. Kenyataan ini ditambah dengan bisik rayuan dari setan yang memperkuat argumenku. Akhirnya, aku pun memutuskan untuk tetap berada di depan komputer.

"Wah, masih empat puluh lima menit lagi", gumamku setelah melihat jam di layar monitor komputerku.

Segera kuayunkan langkah si tikus tak berkaki tak berekor untuk membuka google chrome. Rasa-rasanya memang tidak ada aktivitas lain yang cukup bisa membunuh waktu selain membuka situs bernama Facebook. Sejenak kubuka notifikasi, sembari berharap ada seseorang yang menulis komentar pada status atau album fotoku. Tentunya komentar yang memuat kata "Mas, pesen yang ini ya" lebih kusukai ketimbang komentar yang lain. Maklum, Facebook memang salah satu media untuk mempromosikan bisnisku.

-----------------------------------------


Tak terasa 40 menit sudah berlalu, langit di luar jendela pun sudah mulai gelap. Kuputuskan untuk mematikan komputer dan turun ke lantai satu untuk menyiapkan menu berbuka puasa.

Setelah duduk di depan meja makan, ternyata kulihat adikku sedang mengaduk gelas yang isinya air berwarna kemerahan di dalamnya. Mungkin buat teman-temannya, pikirku.

"Is, sekalian satu lagi ya, haha", kataku sambil meringis dan memelas.

"Wuuu...", gerutu adikku.

"Udah bikinin sekalian buat masnya", kata Ibuku yang muncul dari balik dapur menengahi.

"Hehe...", ucapku sambil melirik penuh kemenangan ke adikku.

Adik perempuanku yang satu ini memang cukup 'bandel'. Mungkin karena kakak-kakaknya yang sering jahil juga sih ya, sehingga menyebabkan dia sedikit susah untuk dinasehati.

Sambil menunggu waktu maghrib, kunyalakan televisi di ruang tengah untuk mencari saluran televisi lokal. Maklum, jarak rumahku dengan masjid cukup jauh, sehingga suara adzan seringkali tidak terdengar.

Saat mengganti saluran televisi, tiba-tiba aku tertegun, memikirkan kenapa adikku baru menyiapkan minuman ke teman-temannya sekarang. Padahal kan sudah sekitar satu jam yang lalu mereka datang ke rumah dan aku tahu kalau adikku sedang tidak berpuasa hari ini. Untuk menetralisir keraguan, langsung saja kutanyakan kepada adikku,

"Is, kok baru nyiapin minuman sekarang?", tanyaku kepada adikku.

"Iya, itu temenku yang satu lagi puasa", jawab adikku.

"Ohh...", gumamku.

Sejenak kemudian, kulihat teman-teman adikku yang sedang asyik mengerjakan tugas sambil bercanda di ruang tamu. Ada dua orang perempuan, yang satu berjilbab dan yang satu tidak. Paling yang berpuasa yang berjilbab, pikirku.

Istilah don't judge book from the cover tampaknya memang cocok untuk situasi kali ini. Setelah beberapa menit kemudian terdengar adzan Maghrib, segera kuminum air sirup yang sudah disiapkan adikku sambil sekejap mencuri pandang ke ruang tamu. Memastikan siapa dari kedua teman adikku yang berpuasa.

Hah? Heran dan sedikit tidak percaya setelah kulihat ternyata yang berpuasa adalah teman adikku yang tidak berjilbab. Prediksiku kali ini meleset. Ada sedikit perang pemikiran yang mengatakan bahwa "padahal adikku kan kalau sekolah pakai jilbab, berarti di antara mereka bertiga justru yang (saat ini) berpuasa yang tidak berjilbab". Aneh, pikirku.

Pertanyaan dan pernyataan lain terus masuk ke pikiranku yang intinya mensugesti bahwa keimanan seseorang itu tidak tergantung dari penampilan luarnya.

Tapi kan berjilbab itu sebuah kewajiban bagi seorang perempuan yang sudah baligh.

Lho tapi itu buktinya, dia yang tidak berjilbab justru lebih baik kan daripada yang berjilbab.

Mmm...iya juga sih ya. Tapi...

Sejenak aku merenung, sering sekali pikiranku ini bertengkar dengan sendirinya. Kadang merasa bahwa diri ini berkepribadian ganda. Tapi enggak lah, aku yakin bahwa salah satu dari pemikiranku ini pasti hasil dari bisikan setan. Bisikan setan? Nah, ini dia, akhirnya aku pun tersadar dari renunganku. Ternyata pemikiran "pemakluman" tadi berasal dari setan. Memang sudah tabiat setan untuk menjerumuskan setiap manusia ke jurang kesesatan, termasuk yang baru saja kualami ini.

Tidak mungkin rasanya di mata Allah seseorang yang tidak berjilbab tapi berpuasa lebih baik ketimbang orang yang berjilbab tapi tidak berpuasa. Walaupun itu belum pasti, tapi diri ini begitu yakin karena PERINTAH BERJILBAB ITU WAJIB dan berpuasa Senin Kamis itu sunnah.

Pemakluman yang dibisikkan oleh setan tadi memang sengaja untuk membuat tipu daya, bahwa berjilbab itu ga penting, yang penting amal perbuatannya. Eit, tapi tunggu dulu, berjilbab itu ga penting? Itu mah kata setan, kalau kata Allah SWT, nih ada dalilnya:


“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzaab: 59)

Pernyataan di atas sekaligus membantah alasan klasik "yang penting kan hatinya dulu yang berjilbab". Hoho...padahal perkara amal perbuatannya baik atau buruk itu beda soal. Berjilbab itu wajib, tapi amal perbuatannya juga harus baik. Bukan berarti boleh tidak berjilbab asalkan baik akhlaknya.

Dan seharusnya pikiran yang terlintas itu berupa motivasi, bukan membanding-bandingkan dua hal untuk membuat sebuah pemakluman.

"Wah, yang belum berjilbab saja rajin berpuasa ya, harusnya yang sudah berjilbab harus lebih rajin dong..."

-----------------------------------------


Hmm...dari kejadian yang simpel tadi ternyata ada sebuah hikmah yang terselip ya. Oleh karena itu, sebuah keharusan bagi kita untuk berpikir jernih dalam menyimpulkan sesuatu. Itu tadi masih pikiran kita sendiri lho, perang pemikiran antara kita dan setan. Belum lagi tayangan media sekarang yang mulai banyak ditunggangi banyak kepentingan menjelang Pemilu 2014. So, jangan menghujat orang lain deh kalau belum tahu secara pasti bagaimana kronologis kejadiannya.

Untuk saat-saat sekarang ini, DIAM ITU EMAS, ungkapan yang sangat cocok buat kita-kita yang tidak tahu apa-apa ini. Biarlah mereka-mereka yang berkepentingan untuk menyelesaikan persoalan ini. Oke? Wah, jadi nyambung ke politik nih, hehe... Gapapa deh :D

Nih, ada premis yang bagus buat para muslimah...:)

Dan ini satu lagi yang cocok banget buat para laki-laki sejati ber"selera tinggi"...:P

0 Response to "Membaca Sudut Pandang Setan"

Posting Komentar